Selasa, 30 Agustus 2016

Sragen , Jawa Tengah

Mbah Gotho Asal Sragen Jawa Tengah Berusia 146 Tahun

Andai bukan karena persoalan fungsi pendengarannya semakin melemah, ngobrol dengan Sodimejo atau yang akrab disapa Mbah Gotho, kita akan bisa mencatat berderet-deret pengalaman dan kearifan hidup. Mbah Gotho seorang manusia yang telah melampaui kehidupan melebihi rata-rata umur manusia lainnya.
Dia mengaku telah berusia 146 tahun. Namun di usianya yang renta itu ingatan masih jernih dan penuturannya masih lancar dan runtut.Terlahir dengan nama kecil Saparman dan sesuai tradisi masyarakat Jawa saat itu, dia berganti nama setelah menikah. Nama tuanya adalah Sodimejo. Namun semua orang di kampung tempat tinggalnya di Dusun Segeran, Desa Cemeng, Sambungmacan, Sragen, lebih mengenalnya sebagai Mbah Gotho.Kata Gotho tidak dikenal sebagai kata baku dalam bahasa Jawa. Namun kata itu sering dipakai di kalangan pedesaan untuk menggambarkan seseorang yang selalu bersemangat dan cenderung menggunakan otot ketika berjalan atau bertindak.
"Sejak kecil, saya sudah mendapati Mbah Gotho sebagai kakek tua yang seluruh rambutnya beruban namun tetap tegak berotot. Orangnya tinggi dengan perawakan gemuk. Kalau berjalan agak terbungkuk, tergopoh-gopoh namun langkahnya tegas, cepat dan bertenaga. Suaranya juga lantang. Mungkin karena itulah dia dipanggil sebagai Mbah Gotho, karena jalannya yang cepat dan kelihatan tergesa-gesa itu," ujar Sriyanto (54 tahun), Kepala Desa Cemeng, Mbah Gotho dan cucunya yang merawatnyaTapi benarkah Mbah Gotho telah berusia 146 tahun? Sriyanto tak bisa memastikan. Meskipun Mbah Gotho juga lahir di desa tersebut, namun data kependudukan yang mencatat kelahiran Mbah Gotho sudah tak lagi bisa ditemukan. Dia hanya berpegangan pada dokumen berupa Kartu Keluarga dan KTP yang dimiliki oleh Mbah Gotho yang mencatat bahwa lelaki renta itu kelahiran 31 Desember 1870.‘Tapi saya sendiri yakin bahwa usia beliau sudah jauh melewati hitungan seabad. Salah seorang warga desa kami, almarhum Mbah Dipo, yang wafat sekitar 5 tahun lalu dalam usia 112 tahun, juga menguatkan hal itu. Semasa hidupnya Mbah Dipo pernah mengatakan tidak seumuran dengan Mbah Gotho. Ketika Mbah Dipo masih sangat kanak-kanak, saat itu Mbah Gotho sudah seorang pemuda dewasa yang telah menikah," lanjut Sriyanto.
Untuk mencari informasi langsung dari Mbah Gotho saat ini memang perlu 'perjuangan' tersendiri. Harus menunggu saat yang tepat ketika dia sedang sepenuhnya konsentrasi, lalu harus bertanya cukup keras di dekat telinganya dengan sedikit dieja. Jika Mbah Gotho masih belum nyambung harus diulangi, namun jika sudah mendengarkan pertanyaan, dia akan segera menjawab dengan sangat gamblang, runtut dan jelas.
"Saya lahir di hari Kamis Wage, Bulan Sapar. Karena itu saya diberi nama Saparman. Tahun lahir saya tidak ingat pasti. Yang saya ingat ketika peresmian Pabrik Gula Gondang, saat itu saya sudah ikut datang menonton. Saat itu saya mendengar cerita bahwa Belanda kurang berkenan dengan posisi pabrik yang baru dibangun itu. Saat itu saya sudah besar dan bisa membantu bapak membajak di sawah. Anak desa sudah diajari membajak sawah itu ketika sudah umur 10 tahun ke atas," tuturnya lancar.
Sejarah mencatat Pabrik Gula Gondang Sragen dibangun pada tahun 1880. Operasional pabrik gula ini tidak lama karena lokasi bangunan pabrik yang tidak sesuai dengan rencana awal pembangunannya. Masyarakat sekitar memang biasa menyebut pabrik gula itu dengan nama Pabrik Sida Wurung atau pabrik yang gagal.(***)

Mabes Polri

Mabes Polri Membenarkan 

Reza Artamevia Positif pakai Narkoba

   

Ketua Umum Persatuan Artis dan Film Indonesia (PARFI), Aa Gatot Brajamusti digerebek polisi saat diduga melakukan pesta  narkoba di Hotel Golden Tulip, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), kemarin. Polisi mengamankan sejumlah orang yang di dalam kamar tersebut, salah satunya penyanyi Reza Artamevia.

Reza memang dekat dengan Aa Gatot yang diakui sebagai guru spiritualnya. Menurut hasil tes urine polisi, mantan istri Adjie Massaid tersebut positif konsumsi narkoba.“Benar, tes urine yang bersangkutan positif (narkoba),” ujar Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Boy Rafli Amar di Jakarta, (30/8/2016).Seperti diketahui, penangkapan Gatot Brajamusti berawal dari informasi masyarakat. Darinya, didapati sejumlah barang bukti di antaranya 1 buah klip plastik berbentuk kristal putih yang diduga sabu, bong atau alat penghisap sabu, pipet kaca, sedotan, dan korek.Beberapa barang lain seperti dompet yang berisi identitas, uang dan handphone ikut juga diamankan. Selain itu, istri Dewi Amin, ikut digelandang bersama barang bukti yang hampir serupa (kondom dan obat-obatan).
Reza Artamevia ikuti kongres PARFI dan positif gunakan narkoba.Saat penggerebekan itu memang di kamar Aa ada sejumlah orang. Karena memang akan ada perayaan ultah, di tanggal 29 kemarin Aa memang kebetulan ultah,” ujar Juru Bicara PARFI, Ozzy.
Menurutnya, Reza memang mengikuti jalannya konggres. Saat ditanya fungsi keberadaan Reza, Ozzy mengaku hanya sebatas memberikan kontribusi untuk PARFI.Setelah penangkapan di Mataram tersebut, polisi melakukan pengembangan dengan menggeledah kediaman Aa Gatot. Dari rumah tersangka didapati 30 jarum suntik, 9 bong & 7 cangklong untuk menghisap sabu, 39 korek api serta 1 bungkus kristal yang awalnya diduga sabu-sabu, namun setelah menjalani tes, zat tersebut negatif narkoba.Bukan hanya itu saja, Gatot Brajamusti juga diduga melakukan penyalahgunaan penyimpanan amunisi karena memiliki senjata api dan peluru. Di rumahnya juga ditemukan satwa langka berupa harimau Sumatera dan Elang Jawa sehingga Gatot juga terkena pasal UU Nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem.(***)